
Parikan adalah sejenis pantun dalam Bahasa Jawa dialek Suroboyoan. Tradisi ini biasanya dilestarikan pada pagelaran seni Ludruk. Namun, karena kini seni pertunjukan tersebut jarang digelar, lambat laun tradisi lisan ini semakin tidak dikenal, bahkan oleh arek Suroboyo sendiri. Karena itu, @kaosparikan hadir menjadi media yang dapat melestarikan tradisi lisan ini.
Kaos kata-kata ini menjadi alternatif pilihan warga Suroboyo untuk tampil trendi tapi tétap tidak meninggalkan akar budayanya. Suroboyo dikenal dengan budaya Arek yang egaliter dengan gaya komunikasi yang blak-blakan. Yang menarik dari kaos ini adalah adanya unsur demografis yang disebutkan untuk meaghubungkan pengalaman sehari-hari ataupun memori pengguna dan pesan moral yang diangkat di setiap paríkan yang diangkat. Misalnya, pada kaos ini dua larik pertama menyebutkan nama wilayah di Surabaya, lalu pada dua larik berikutnya berisi pesan moral yang relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Selain, parikan empat larik. Ada juga parikan dua larik yang berisi 1 baris sampiran dan 1 baris isi. Varian parikan tersebut seperti yang terlihat pada gambar produk @kaosparikan di samping ini.
“Tuku ketan neng Tunjungan” adalah sampiran yang menyebutkan nama daerah terkenal di Surabaya, sedangkan “Utangan tetep dibayar wong jenenge utangan” adalah isi yang menyelipkan pesan moral bahwa jika kita berhutang tetap harus dibayar. Itulah misi edukasi produk ini.

